GENERASI MILLENIAL DAN TANTANGAN KEBANGASAAN
GENERASI MILLENIAL DAN TANTANGAN KEBANGASAAN
Oleh:
Muhamad Ihsanul Faadil
@ihsanul.fdl
Menurut pendapat Elwood Carlson dalam bukunya
yang berjudul The Lucky Few: Between the Greatest Generation and The Baby
Boom (2008), generasi milenial adalan mereka yang lahir dalam rentang tahun
1983 sampai dengan tahun 2001. Kemudian pendapat ini diperkuat oleh Karl
Mannheim (1923), yang didasarkan pada Generation
Theory, menyatakan bahwa generasi milenial adala generasi yang lahir pada
rasio tahun 1980 sampai tahun 2000.
Sedangkan, Menurut Tapscott (1998) menyebut
generasi milenial dalam istilah Digital Generation yang lahir antara
tahun 1976-2000. Dengan kata lain, generasi millennial ini adalah anak-anak
muda yang saat ini berusia antara 17-38 tahun. Jadi kesimpulan mengenai tahun
lahir pada generasi milenial adalah mereka-mereka yang dilahirkan antara tahun
1980 sampai dengan tahun 2000.
Generasi milenial merupakan generasi yang
lahir di zaman modern seperti saat ini, dimana teknologi sangat berkembang dan
adanya kebebasan dalam mengakses informasi. Generasi ini lahir dengan memiliki
karakteristik yang khas jika dibandingkan denan generasi-generasi sebelumnya,
seperti generasi Baby Boomers, bahkan bisa dikatakan antarar generasi
ini sangat bertolak belakang. Berikut adalah perbedaan atau karakteristik khas
yang dimiliki antara generasi Millenials dan generasi Baby Boomers, antara
lain sebagai berikut:
|
NO.
|
Generasi Millenial
|
Generasi Baby Boomers
|
|
1.
|
Teknologi semakin berkembang
|
Teknologi belum berkembang
|
|
2.
|
Hidup serba modern
|
Hidup berorientasi tradisional
|
|
3.
|
Hidup berorientasi dengan instan
|
Hidup berorientasi dengan pencapaian, berdedikasi,
|
|
4.
|
Mudah untuk diajak diskusi
|
Sulit diajak diskusi
|
|
5.
|
Gila terhadap gadget dan tidak lepas dari media
sosial
|
Tidak memikirkan tentang teknologi, maupun media sosial
|
|
6.
|
Berfikir kreatif dan inovatif
|
Berfikir kaku dan fokus pada keinginannya
|
|
7.
|
Menerima kritik dan saran dari orang lain
|
Sukar untuk menerima kritik dan saran dari orang lain
|
|
8.
|
Bertindak terburu-buru
|
Bertindak dengan teliti dan sabar
|
Tabel 1 Perbedaan karakteristik generasi millenials
dan generasi Baby Boomers
Jadi, pada intinya generasi millenial lahir
pada zaman dimana teknologi dan informasi semakin berkembang dibandingkan
dengan zaman-zama sebelumnya dan hidup dalam moderniasasi.
Hasil studi yang dilakukan oleh Boston
Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 di Amerika
Serikat, tentang generasi milenial USA adalah sebagai berikut:
1. Minat membaca
secara tradisional atau konvensional kini sudah menurun karena Generasi Y atau
generasi milenial lebih memilih membaca lewat smartphone mereka;
2. Milenial wajib
memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi;
3. Milenial pasti
lebih memilih ponsel daripada televisi. Menonton sebuah acara televisi kini
sudah tidak lagi menjadi sebuah hiburan karena apapun bisa mereka temukan di
telepon genggang;
4. Milenial
menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dan pengambilan keputusan
mereka.
Hal-hal demikian sebagian besar juga dimiliki
oleh generasi milenial yang ada di negara Indonesia. Dimana mereka juga
mementingkan teknologi dan informasi untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya.
Namun, hal tersebut perlu dibatasi agar tidak terlalu berlebihan dalam
menggunakannya dan tentunya agar tidak meruntuhkan rasa nasionalisme terhadap
bangsa Indonesia.
Kebiasaan buruk pun sering mereka (generasi
millenial Indonesia) lakukan tanpa memerhatikan lingkungan sekitar, seperti
buang sampah sembarangan dan merokok di tempat umum yang dapat menyebabkan
gangguan kesehatan bagi orang disekitarnya, serta kebiasaan mereka yang hidup
dalam kebebasan dan hedonisme[1],
seperti Clubing. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya kepedulian mereka
terhadap diri sendiri dan orang lain. Sangat disayangkan kemampuan generasi
muda yang begitu maju dalam mengikuti kemajuan teknologi tak disertai dengan
pengetahuan yang cukup terkait wawasan kebangsaan dan ideologi pancasila.
Bahkan mereka lebih cepat memahami budaya atau ideologi bangsa asing daripada
ideologi bangsa kita sendiri.
Dengan
dituntutnya perkembangan zaman ini, anak-anak millenial semakin melupakan
penerapan dasar-dasar pancasila, dengan kata lain mudarnya sikap kebangasaan. Contohnya
seperti kurangnya menghargai karya orang lain, sikap sopan santun kepada orang
tua, dll. Kurangnya rasa cinta tanah air akan mempengaruhi sikap generasi
millenial berikutnya yang berarti akan mengancam kedaulatan bangsa. Jika
kedaulatan terancam, maka bangsa asing akan mudah menyerang dan mempengarhui
kedaulatan bangsa Indonesia.
Tantangan generasi milenial di masa depan yang
semakin berat dalam menghadapi era gloalisasi atau perkembangan zaman dan
membutuhkan usaha untuk memperkuat dan meningkatkan rasa nasionalisme dan
kecintaan anak-anak generasi millenial kepada bangsa Indonesia. Perlu adanya
pendidikan kewarganeraan dan pancasila yang dilakukan secara konsisten, artinya
pendidikan kewarganegaraan dan pancasila perlu diajarkan secara terus menerus,
baik melalui teori maupun praktik atau perbuatan.
Pendidikan kewarganegaan dan pancasila memang
sangat dibutuhkan pada zaman modern ini karena secara empiris menyatakan bahwa
kualitas dan rasa nasionalisme anak-anak millenial sudah mulai memudar dan
sikap kebangsaannyapun semakin kurang. Oleh karena itu, perlu adanya beberapa
tindakan untuk menangani masalah tersebut.
Hal ini dibuktikan oleh peneliian yang
dilakukan oleh Alvara Research Center[2],
2014 yang menyatakan bahwa saat ini mulai ada pergeseran nilai-nilai sosial
bagi generasi millenial karena mereka lebih mudah menerima dan mengadopsi
nilai-nilai sosial bangsa barat yang lebih modern dan lebih dinamis. Oleh sebab
itu, pemikiran-pemikiran mengenai gaya hidup budaya barat terhadap generasi
millenial saat ini sudah harus diubah, sehingga mereka bisa lebih menghargai
arti penting kemerdekaan bangsa Indonesia dan mengamalkan ideologi bangsa.
Dengan penerapan ideologi bangsa ini, diharapkan dapat menyatukan seluruh aspek
kehidupan masyarakat generasi saat ini agar pembangunan masyarakat di Indonesia
seutuhnya bisa tepat sasaran, karena generasi millenial saat ini lah yang akan
menentukan nasib bangsa Indonesia di masa depan.
Dalam hal pendidikan, tenaga pendidik mampu
mengolah situasi pembelajaran agar siswa anak-anak generasi milenial memiliki
kemampuan berpikir secara kritis dan analitis (critical thinking),
kreatif dan inovatif (creativity), kolaboratif (collaboration),
serta komunikatif (communication). Untuk itu pembelajaran tidak hanya
mengandalkan di dalam kelas, di luar kelaspun perlu dilakukan agat siswa tidak
bosen di dalam kelas. Tenaga pendidik juga perlu mengamalkan nilai-nilai
pancasila kepada siswanya agar mereka meniru dan mengimplementasikan
nilai-nilai pancasila dengan baik. Selain adanya penguatan pendidikan, perlu juga
adanya penguatan identitas nasional kepada generasi milenial.
Koenta Wibisono
(2005), mengartikan makna
Identitas Nasional sebagai manifestasi
nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang pada aspek kehidupan sebuah
bangsa (nasion) dengan ciri khasnya, yang membuat berbeda dengan bangsa lain
dalam kehidupannya. Artinya adalah generasi
milenial perlu menerapkan gagasan atau dasar-dasar kehidupan yang sudah
ditetapkan oleh bangsa Indonesia, seperti watak, karakter, dan lain sebagainya.
Hal tersebut yang harus ditanam pada jiwa generasi milenial agar tidak
menyimpang dari dasar kehidupan bernegara dan mampu memfiltrasi budaya-budaya
luar.
Permasalahan lain dari Anak-anak millenial adalah
mereka lebih cenderung hidup atau bergaya konsumtif dan hidup bergaya
kebarat-baratan, hal ini disebabkan oleh sistem globalisasi yang begitu cepat
perkembangannya. Sistem globalisasi ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia,
satu diantaranya dalam segi kualitas kehidupan manusia, ada yang kualitasnya
semakin membaik dan juga ada yang semakin memburuk. Hal inipun juga dirasakan
oleh anak-anak millenial zaman ini, ada yang semakin membaik dan ada pula yang
semakin memburuk akibat sistem globalisasi ini.
Oleh sebab itu, perlu adanya penguatan rasa
nasionalisme dan kecintaan yang mendalam terhadap tanah air bangsa Indonesia
oleh generasi millenial dengan tujuan agar tidak meluntur rasa nasionalisme
pada generasi millenial dan juga untuk meningkatkan rasa kecintaannya kepada
tanah air.
Generasi milenial juga perlu mengetahui apa
saja tujuan dari terbentuknya Negera Kesatuan Republik Indonesia, tujuan dan
manfaat untuk mengetahui tujuan dari terbentuknya Negara Indonesia adalah agar
mereka mampu mengejar cita-cita bangsa dan tidak mengabaikan tujuan
terbentuknya suatu negara, sehingga rasa nasionalisme dan rasa cinta tanah
airnya semakin tumbuh dan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik lagi.
Adapun tujuan dari terbentuknya Negera Kesatuan Republik Indonesia adalah
sebagai berikut:
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia;
2. Memajukan kesejahteraan umum;
3.
Mencerdaskan kehidupan
bangsa; dan
4.
Ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadian keadilan sosial.
Dengan demikian, diharapkan bahwa generasi
milenial mampu menghadapi tantangan kebangsaan di masa depan dengan bekal
pendidikan, serta bekal pengetahuan yang kuat tentang identitas nasional dan
tentunya pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan pancasila agar mereka mampu
menyaring hal-hal atau informasi dari bangsa lain yang dapat mengancam
kedaulaan bangsa Indonesia.
Bibliografi
Ali, Hasanuddin, dkk. 2017. The Urban Middle-Class Millenials Indoneisa:
Finance and Online Behavior. Jakarta: PT Alvara Strategi Indonesia.
Dwi Sulisworo, dkk. 2012.
Identitas Nasional. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan.
Hafidzoh, Siti. 2018. Generasi Milenial dan Bela
Negara dalam Kebhinekaan. diakses pada laman https://jalandamai.org/generasi-milenial-dan-bela-negara-dalam-kebhinekaan.html,
pada pukul 09.23 WIB.
Kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak dengan BPS. 2018. Profil
Generasi Milenial Indonesia. Jakarta : Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak.
[1]
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi
bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin
menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.
[2]
ALVARA adalah perusahaan riset Indonesia yang selalu memberikan akurasi dan
wawasan sebagai prioritas pertama bagi pengambil keputusan di perusahaan dan
institusi mana pun.
Comments
Post a Comment